Catatan Romadhon 1447H – Empat Langkah Bela Al-Aqsho

BismilLah.
Catatan kultum jelang ifthor bersama Syaikh Ayyub Musa ba’da ‘Ashar hari Rabu, 15 Romadhon 1447H / 04 Maret 2026M di Masjid An-Nubuwwah, Natar – Lampung sbb:

  • Apa yang terjadi dengan Masjid Al-Aqsho? Qiblat pertama ummat Islam itu hendak dirobohkan oleh Zionis Israel, dengan alasan bahwa di bawah masjid tersebut ada bekas Kuil Sulayman (Solomon Temple). Mereka meyakini bahwa Sulayman (bin Dawud) pernah menjadi Raja Bani Isroil dan menguasai Dunia, maka bila Yahudi ingin menguasai kembali Dunia, maka mereka harus menguasai Masjid Al-Aqsho lebih dulu. Setelah itu mereka akan bangun Kuil Sulayman ke-3 diatas reruntuhan Masjid Al-Aqsho.
  • Menjadi keutamaan bagi muslimin Palestina untuk membela Masjid Al-Aqsho agar tidak dikuasai oleh Zionis Yahudi. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh muslimin Indonesia untuk membantu perjuangan di sana karena adanya jarak yang memisahkan dua negeri ini? Setidaknya ada empat langkah jihad yang bisa dilakukan, yakni sbb:
    1). Jihad bi Tawbah (juang dengan langkah bertaubat)
  • Akan timbul lagi pertanyaan, mengapa jihad dimulai dengan taubat? Apakah taubat menjadi sebab kemenangan ummat Islam? Dan, apakah ma’shiyat yang dilakukan oleh muslimin Indonesia disini akan menyebabkan kekalahan muslimin di Palestina disana?
  • Ingatlah peristiwa pahit dalam perang Uhud. Saat itu para pemanah (berjumlah 50 orang) yang naik ke bukit Rumat, telah diberi amanat oleh RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam agar tetap berada disana, sebagai salah satu strategi kemenangan, hingga ada perintah untuk turun.
  • Saat peperangan berlangsung, pasukan musyrikin ternyata kewalahan sehingga mereka mundur dengan meninggalkan banyak ghonimah (harta rampasan perang). Pasukan muslimin yang berada di bawah bukit, terus mendesak musuh sembari mengambil ghonimah. Melihat hal itu, para pemanah diatas bukit ingin turut serta mengambil harta itu, dan mengira bahwa perang telah usai.  Walaupun terjadi silang pendapat diantara mereka, namun kebanyakan para pemanah itu akhirnya turun bukit.
  • Banyaknya pemanah yang turun dari bukit Rumat itu terlihat oleh Kholid bin al-Walid, yang saat itu masih berstatus kafir. Dia melihat peluang emas untuk memukul balik lawan dengan telak. Akhirnya pasukan muslimin panik, banyak diantaranya yang syahid dan mengalami kekalahan.
  • Mari kita pikirkan hikmahnya, ingat dalam perang itu ada sosok Muhammad RosululLoh, ada shohabat Abu Bakar, ada shohabat ‘Umar, tapi ternyata hal itu tidak menjadi faktor kunci kemenangan bagi muslimin, manakala sebagian dari mereka, yakni pasukan pemanah, berbuat ma’shiyat dengan menyalahi perintah Rosul untuk tidak turun dari bukit Rumat. 
  • Hal yang sama akan terjadi dengan muslimin Palestina, yang berjuang di sana. Mereka akan sulit mendapatkan kemenangan bila muslimin disini terus melakukan ma’shiyat. Yang diperlukan di Indonesia sini adalah berjuang untuk menjauhi ma’shiyat dan segera bertaubat.
    2). Jihad bi Ilmi (juang dengan langkah keilmuan)
  • Dari data warga Gaza yang syahid, ternyata target utama Zionis Israel dalam perangnya adalah para kalangan terpelajar. Betapa banyak Ulama dan para ahli, dengan gelar Professor, Doktor, hingga Pelajar yang syahid di Palestina, artinya Zionis ingin menghentikan proses pendidikan dan memupus lahirnya generasi unggul dari ummat Islam.
  • Tidak bisa dipungkiri bahwa penggerak peradaban adalah para ahli dan kalangan pelajar yang beramal sholih sesuai keilmuan-nya. Maka sudah semestinya muslimin Indonesia berjuang untuk memajukan pendidikan, termasuk penguasaan teknologi, dan membuka wawasan pikir mereka bahwa Baytul Maqdis adalah tanggung jawab ummat Islam, yang mereka punya kewajiban untuk membelanya dengan segenap kemampuan yang ada.
    3). Jihad bi Ibadah (juang dengan langkah beribadah)
  • Ketika menghadapi musuh dengan peralatan perang serba lengkap, sangat mungkin akan menjalar kekhawatiran berupa kekalahan pada diri kita. Maka tidak ada yang sanggup meneguhkan hati muslimin pada saat genting seperti itu kecuali dengan bersandar kepada AlLoh ‘Azza wa Jalla.
  • Ingatlah kisah Muhammad bin Wasi’ (bukan Sa’ad bin Musayyib) ketika meminta pertolongan AlLoh ‘Azza wa Jalla dalam perang di kota Bukhoro. Saat itu pasukan muslimin telah terkepung dan sulit bergerak, maka Panglima Qutaybah bin Muslim mencari seseorang diantara pasukannya. Ketika dia bertanya, dimana Muhammad bin Wasi’, maka ada yang menjawab bahwa dia (Muhammad bin Wasi’) sedang bersandar pada tongkatnya sembari berdo’a dengan telunjuknya ke arah langit. Panglima Qutaybah lalu berkata, “Tidak perlu (dipanggil), biarkanlah dia. Demi Allah, telunjuknya itu (do’a beliau) lebih aku sukai daripada 1.000 pedang pilihan yang dihunus oleh para pemuda jagoan. Maka biarkanlah dia berdo’a, kita mengetahui bahwa do’a-nya mustajab.”
  • Bagi muslimin Indonesia, teruslah perbaiki ibadah kalian, dan do’akan kami di Palestina agar teguh membela Masjid Al-Aqsho dan segera mendapatkan kemenangan berupa kemerdekaan Palestina. 
    4). Jihad bi Ruhama (juang dengan langkah kasih sayang)
  • Dalam satu hadits dinyatakan bahwa seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya. Bahkan dalam QS. Al-Fath ayat 29, AlLoh Ta’ala menyatakan bahwa muslim itu tegas terhadap orang kafir, namun berkasih-sayang terhadap sesama mereka. Ayo wujudkan ruhama atau kasih-sayang kepada muslim di Palestina. Mengapa kami serukan hal ini?
  • Coba kita bayangkan: bila ada seorang Ayah (seorang warga Gaza), yang harus menghidupi anak dan istrinya, sementara mereka tinggal di tenda pengungsian, sedangkan tidak ada pekerjaan yang tersedia karena kondisi perang, di sisi lain makanan harganya melambung naik dan mereka tidak punya uang. Lalu apa yang harus ia lakukan?
  • Bayangkan lagi: bila ada saudaranya se-Iman, yang tak pernah saling mengenal, tiba-tiba datang membawa bantuan dan memberinya apa yang ia butuhkan. Pada saat seperti itu, apa yang ia rasakan? Tentu muncul rasa gembira dan bahagia, walaupun tidak semua keperluan mereka bisa dipenuhi.
  • Demikianlah sejarah ummat Islam melukiskan bagaimana tulusnya kaum Anshor di Madinah menolong kaum Muhajirin, saudaranya se-Iman, yang hijroh dari Makkah. Mereka menawarkan dan berbagi harta apa pun yang mereka miliki kepada saudaranya, walaupun sejatinya mereka sendiri masih membutuhkannya.
  • Mari tumbuhkan kasih-sayang kepada muslimin Palestina, dan bantu mereka dengan apa yang kita punya, walaupun sedikit. Semoga AlLoh Ta’ala membalas berlipat ganda atas bantuan muslimin Indonesia. Aamiin. 

Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada