BismilLah.
Catatan kultum bersama Syaikh Ayyub Musa pada ba’da Shubuh hari Senin, 13 Romadhon 1447H / 02 Maret 2026M di Masjid An-Nubuwwah, Natar – Lampung sbb:
(Penerjemah) Syaikh Ayyub asli orang Palestina, yang tinggal di Lebanon. Orangtuanya adalah warga Palestina yang terusir pada Peristiwa Nakbah 1948M, dan mengungsi ke Lebanon. Beliau saat ini menjabat Wakil Ketua Persatuan Da’i Wilayah Syam, selaku Imam dan Khotib Masjid di sana, juga membina enam (6) tenda pengungsi keluarga Palestina.
Sebagai mukaddimah, saya akan sampaikan beberapa pertanyaan aneh yang disampaikan oleh kaum muslimin sepanjang safari kali ini.
Pertama, ada orang yang bertanya : mengapa negara-negara Arab tidak membela Palestina? Saya jawab : Tahukah kita, dimana qiblat pertama ummat Islam? Ya, di Baytul Maqdis, di negeri Palestina. Lalu Baytul Maqdis itu milik siapa, orang-orang Arab atau kaum muslimin? Tentu jawaban-nya : milik kaum muslimin. Tapi mengapa seakan-akan pembelaan Baytul Maqdis hanya diserahkan kepada negara-negara Arab, bukan lagi kepada kaum muslimin?
Kedua, ada juga yang bertanya : mengapa setiap datang ke Indonesia seorang Syaikh dari Palestina, selalu mereka meminta donasi? Saya jawab : mungkin saja orang yang bertanya menutup mata atas bantuan yang diberikan oleh kaum muslimin selain di negara Indonesia ini, boleh jadi karena tidak tahu fakta yang ada. Bantuan yang diterima rakyat Palestina itu ada yang datang dari pihak Pemerintah, contohnya : Turki dan Qatar. Ada juga bantuan dari kalangan pengusaha, seperti : Suriah dan Lebanon. Ada juga bantuan dari pihak masjid dan yayasan, contohnya : Malaysia dan Indonesia. Memang ada beberapa oknum dengan yayasan fiktif, berusaha mencari donasi atas-nama warga Palestina, tapi jangan berburuk sangka pada seluruh yayasan yang hadir di Indonesia.
Kedua pertanyaan tersebut mungkin sengaja disusupkan oleh oknum yang ingin memecah-belah kesatuan muslimin dan kecintaan kita kepada Baytul Maqdis. Semestinya, kita ummat Islam tetap bersatu, mengapa? Sebagai gambaran : bila kita bentangkan satu benang, maka akan mudah untuk kita tarik hingga putus. Coba kita tambahkan benang ke-2, 3, 4, 5 maka makin sulit untuk diputus dengan sekali tarikan. Demikianlah ummat ini, akan lebih kuat dan tidak mudah diputuskan tali persaudaraan bila kita bersatu.
Tema yang akan saya bawakan kali ini adalah : kewajiban jihad fi sabililLah.
Mengapa kita membahas jihad fi sabililLah? Saya ingatkan dengan satu hadits Nabi shollalLohu ‘alayhi wa sallam, yang artinya, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum pernah berperang dan tidak pernah berniyat (meniyatkan diri) untuk berperang, maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan”. (HR.Muslim No.1910)
Jihad itu terbagi dlm lima tingkatan, yakni sbb:
1). Orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya, lalu tidak kembali lagi baik harta maupun jiwanya.
AlLoh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Berangkatlah kamu (untuk berperang), baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS.At-Tawbah 41)
Orang Palestina mendapatkan kehormatan yang luar biasa, karena qiblat pertama ummat Islam ada di negeri mereka, sehingga mereka bersedia mempersembahkan harta dan jiwa untuk membelanya. Kalau ada seorang muslim wafat, maka pada umumnya akan didatangi oleh saudaranya dalam rangka takziyah, yakni menghibur kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Tapi yang terjadi di Palestina, bila ada warga yang mati syahid, maka yang diharapkan justru tahniah, yakni ucapan selamat karena mereka meyakini bahwa orang yang syahid akan lebih dulu mendapatkan Surga. Insya AlLoh.
2). Orang yg berjihad dengan jiwanya, lalu tidak kembali kecuali tercatat sebagai syahid.
Tingkatan ke-2 adalah orang yang bersedia mengorbankan jiwanya, tapi tidak diberi kemampuan harta, sehingga ia berangkat jihad dengan bantuan biaya orang lain atau negerinya. Ingatlah AlLoh ‘Azza wa Jalla berfirman tentang keutamaan mendapatkan mati syahid, yang artinya, “Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.” (QS.Ali ‘Imron ayat 169)
3). Orang yang berjihad dengan hartanya untuk mendukung perjuangan ummat Islam.
Bagi orang Indonesia, pergi ke Palestina jelas perlu biaya besar, maka yang lebih memungkinkan adalah membantu saudaranya di sana dengan harta yang mereka miliki. Mungkin saja satu orang Indonesia hanya mampu membantu Rp.10.000,- tapi bila ia mengajak saudara lainnya di sini, maka boleh jadi nilainya akan terus berlipat-ganda dan akhirnya terkumpul cukup besar untuk membantu warga Palestina yang serba kekurangan.
4). Orang yang berjihad dengan “kalimat”, yakni belajar dan mengajarkan Al-Quran, juga ilmu yang bermanfa’at lainnya. Para pelajar dan guru termasuk pada tingkatan ini, karena mereka mempersiapkan diri, dengan mengasah dan mengamalkan keilmuan yang dimiliki guna mendukung jihad fi sabililLah.
5). Orang yang berjihad mengendalikan hawa nafsunya.
Ini tingkatan terakhir karena sebelum berjihad melawan musuh, maka seorang muslim harus mengalahkan dan mengendalikan dulu hawa nafsunya, agar tunduk dan dapat mengerahkan amal-sholih dalam kebenaran (al-haq).
Saat ini Zionis Israel memerangi rakyat Palestina, dan juga memerangi siapa pun yang mendukung perjuangan rakyat Palestina! Mengapa Zionis Israel membunuh pemimpin Iran? Karena negara Iran-lah yang mendukung perjuangan Palestina, yang melatih para mujahid Palestina, dan yang ikut mempersenjatai perlawanan di Palestina.
Zionis Israel berpikir bahwa upaya mereka membunuh para pemimpin muslimin (seperti : Ismail Haniya, Yahya Sinwar, dan Ali Khameini) akan menyebabkan ummat Islam lemah! Justru yang terjadi adalah sebaliknya, peristiwa terbunuhnya pemimpin muslimin akan menyalakan semangat jihad lebih besar, karena kaum muslimin yakin bahwa siapa yang syahid maka akan “hidup” dan dianugerahi rizqi di sisi AlLoh.
Apakah kita pernah berpikir bahwa Zionis Israel akan membiarkan kita di masjid ini beribadah dengan tenang? Apakah mereka akan membiarkan kita, yang berusaha membela agama Islam, untuk tetap hadir di muka Bumi? Bahkan mereka telah berani membunuh para Nabi, lalu apakah mereka merasa kasihan kepada kita sehingga membiarkan tetap hidup?
Teringat kisah Kholid bin al-Walid yang menangis di atas ranjangnya, karena sadar bahwa dirinya akan menjemput kematian bukan di medan perang, sedangkan setiap jengkal tubuhnya ada bekas luka peperangan. Itulah kerinduan shohabat Nabi akan mati syahid. Maka mari pasang niyat di dalam hati kita sebagaimana anjuran Nabi shollalLohu ‘alayhi wa sallam, “Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan jujur (sungguh-sungguh), maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada’ meski ia mati di atas tempat tidur.” (HR.Muslim no.1909)
Para ikhwan dan akhwat sekalian, mari gunakan setiap langkah kita untuk memerangi Zionis Israel, dengan aksi apa pun yang bisa kita lakukan, dan itu semua termasuk jihad fi sabililLah. Insya AlLoh.
Demikian catatan ini, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada.





