BismilLah.
Catatan kajian Tafsir Jalalayn bersama Ust. Mastur dan Imaamul Muslimin Ust. Yakhsyallah Mansur pada ba’da Shubuh hari Jum’at, 03 Robi’ul Awwal 1446H / 06 September 2024M di Masjid An-Nubuwwah, Natar – Lampung sbb:
@QS. Al-Baqoroh Ayat 255
- AlLoh, tidak ada Tuhan, atau tidak ada yang disembah dengan benar secara nyata. Kecuali Dia yang Maha Hidup, berterusan lagi kekal. Yang Maha Mengatur, berdiri mengatur urusan makhluq-Nya. Tidak mengenai diri-Nya rasa kantuk, atau terlena, dan tidak pula tidur.
- Bagi-Nya apa-apa yang ada di seluruh langit dan apa-apa yang ada di bumi, sebagai kepunyaan, ciptaan dan hamba-Nya.
- Siapa yang dapat, artinya tidak seorang pun, memberi syafa’at (pertolongan) di sisi-Nya kecuali dengan idzin dari-Nya, atas dirinya (seseorang) dalam hal (syafa’at) itu.
- Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka, yakni urusan makhluq, dan apa yang di belakang mereka, yakni urusan dunia dan akhirot. Sedangkan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya kecuali dengan kehendak-Nya, atau mereka tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang AlLoh ketahui. Kecuali yang Dia kehendaki, untuk mereka ketahui darinya (ilmu AlLoh) dengan kabar dari para Rosul.
- Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, (ada tiga pendapat) dikatakan itu adalah ilmu-Nya yang meliputi keduanya, dan dikatakan itu adalah Kekuasan-Nya, dan dikatakan itu adalah Kursi-Nya itu sendiri yang mencakup keduanya untuk menggambarkan betapa besarnya, sesuai bunyi hadits : “Tidaklah langit yang tujuh di Kursi itu kecuali seperti tujuh keping dirham yang diletakkan pada hamparan (Kursi) itu.”
- Dan tidaklah berat bagi-Nya untuk memelihara keduanya, yakni seluruh langit dan bumi.
- Dan Dia adalah Maha Tinggi, yakni diatas seluruh makhluq-Nya sehingga mampu mengatur semuanya, dan Dia Maha Agung.
Tambahan dari Imaam sbb:
- Pertanyaan sederhana tapi banyak orang yang tidak bisa menjawab, “Tuhan itu siapa?” Dari tafsir ayat ini kita mengetahui bahwa Tuhan itu adalah Dzat yang disembah.
- Pertanyaan selanjutnya, “Apakah Tuhan itu satu atau banyak?” Ternyata Tuhan itu banyak, bahkan hal ini diakui oleh Al-Quran, misalnya disebutkan ada : ‘Isa bin Maryam, Latta, ‘Uzza, dll. Tetapi kelanjutan ayat menyatakan secara tegas bahwa yang disembah dengan benar itu hanya AlLoh ‘Azza wa Jalla dengan lafazh “illa huwa” yang artinya kecuali Dia.
- Lafazh “al-hayyu” menandaskan bahwa AlLoh itu kekal (yang dalam tafsir disifati dengan kata baqo’). Lalu apa bedanya dengan “jannah” (surga) yang juga dinyatakan kekal (dengan kata kholidun)? Bedanya : baqo’ itu tidak ada permulaan dan tidak ada akhir, sedangkan kholidun itu ada awalnya atau ada akhirnya.
- Tdk mengenai pada diri-Nya rasa kantuk dan tidak pula tidur. Suatu saat para shohabat menanyakan bagaimana bila AlLoh mengantuk sedangkan bumi dan langit berada dalam genggaman-Nya, maka RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam memberi perumpamaan bagaimana bila mereka sendiri membawa nampan berisi banyak gelas dan tiba-tiba ngantuk, sudah tentu gelas akan saling beradu lalu jatuh. Para shohabat pun memahami hal itu.
- Dalam ayat ini disebutkan kata “kursi” yang menggambarkan betapa besarnya ciptaan AlLoh Ta’ala itu, sehingga manusia pun menggunakan kata “kursi” secara simbolis untuk menggambarkan besarnya kekuasaan manusia ketika memimpin manusia lainnya.
- Dan Dia Maha Tinggi “aliy” yang ditafsirkan berada tinggi diatas (fawqo) seluruh makhluq Nya, bukan diatas tapi menempel pada makhluq Nya. Bila digambarkan adalah seperti tingginya langit-langit yang tidak menempel dengan lantai, sudah tentu berbeda dengan kita yang sedang berdiri diatas lantai, walaupun sepintas mirip, karena langit-langit dan kita, sama-sama berada diatas lantai.
Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada





