BismilLah.
Assalamu’alaykum.
Tilawah QS. Hud ayat 8-11 bersama Imaamul Muslimin : Ustadz Yakhsyallah Mansur, pada ba’da Shubuh hari Rabu 29 Rojab 1443H / 02 Maret 2022M di Masjid An-Nubuwwah, Dusun Muhajirun – Natar sbb :
– Pada ayat ke-8, kita lihat di mushaf ada tanda ‘ayn (yakni ruku’, yg berarti satu tema). Penandaan ini untuk memudahkan pemahaman pembaca, bahwa satu tema sudah selesai, dan akan berpindah ke tema lainnya.
– Tambahan tanda ‘ayn tersebut, bila ditinjau dari sisi bahasa maka tergolong bid’ah (sesuatu yang baru), atau bisa juga dikatakan bahwa ia adalah bid’ah hasanah.
– Ayat ke-8 berbicara tentang ‘adzab, yakni : sesuatu hal yang tidak mengenakkan, berupa bencana kepada jin dan manusia, yang terjadi karena adanya kesalahan mereka (ingat, ada 3 poin penting).
– Kapan datangnya ‘adzab itu? Maka waktunya atas kehendak Alloh Ta’ala, walaupun orang kafir terus-menerus menantang akan datangnya ‘adzab tersebut.
– Apa hikmahnya? Bila datangnya ‘adzab itu sesuai permintaan orang kafir, maka seakan-akan Alloh tunduk kepada keinginan mereka. Dan ingat, bila ‘adzab itu telah datang, maka tidak ada seorang pun diantara mereka yang bisa mengelak daripadanya.
– Hal yang tidak mengenakkan itu bisa saja berupa:
1). Tadzkiroh (suatu kejadian yang mencegah seseorang untuk berbuat munkar),
2). Bala` (suatu kejadian yang bisa saja menimpa orang baik), dan
3). ‘Adzab (sebagaimana yang kita bahas kali ini).
– Ayat ke-9 bicara tentang kebalikan dari ‘adzab, yakni rohmat. Rohmat adalah perasaan dalam hati yang menyebabkan pemiliknya senang untuk berbuat baik kepada makhluq lain.
– Contoh rohmat pada manusia adalah: kasih sayang seorang Ibu. Tidak pernah Ibu menuntut anaknya untuk balas budi, walaupun sang Ibu susah-payah mengandung, melahirkan dan menyusui (bahkan mengasuhnya hingga remaja).
– Bila ada orang yang masih berharap balasan atas kebaikan yang telah ia berikan, maka hal itu bukanlah rohmat. Sedangkan Alloh Ta’ala terus-menerus berikan kebaikan kepada manusia, tanpa berharap balasan sama sekali.
– Lalu bagaimana sikap orang kafir? Bila rohmat itu dicabut, maka seakan-akan mereka tidak pernah mendapatkan nikmat, dan ia pun tidak berterima kasih atas nikmat yang pernah diterimanya.
– Ayat ke-10 menggambarkan bilamana orang kafir itu kembali mendapatkan nikmat, setelah sebelumnya ditimpa ‘adzab, maka ia seakan lupa dengan ‘adzab yang pernah terjadi, sehingga mereka gunakan nikmat itu dengan kesombongan.
– Pada ayat ke-11, manusia diserukan untuk shobar dan tetap mengerjakan kebaikan.
– Contoh “tes kesabaran” yang nyata dalam keseharian manusia adalah : sakit. Bila manusia sakit, maka yang dipikirkan adalah: “betapa lama ia telah sakit”, bukan “sudah berapa lama ia dalam kondisi sehat”. Padahal umumnya manusia masa sehat-nya jauh lebih lama daripada masa sakitnya. Benar kan?
– Maka sudah semestinya bagi manusia untuk banyak-banyak bersyukur kepada Alloh Ta’ala, yang telah melimpahi dirinya selama ini dengan kesehatan.
# Demikian catatan kami, semoga bermanfaat dan mohon maaf atas segala kekurangan.