BismilLah.

Catatan kajian Tafsir Jalalayn QS. Ali ‘Imron 18-20 bersama Ust. Mastur dan Imaamul Muslimin: Ust. Yakhsyallah Mansur pada ba’da Shubuh hari Jum’at, 25 Jumadats Tsani 1446H/27 Desember 2024M di Masjid An-Nubuwwah, Natar – Lampung sbb:
= Tafsir ayat 18
- AlLoh bersaksi, yakni menjelaskan kepada ciptaan-Nya dengan dalil-dalil dan ayat-ayat, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang wujud) atau tidak ada yang disembah dalam wujud dengan benar, kecuali Dia, bersaksi pula yang demikian itu (para malaykat), dengan pengakuan mereka, dan orang-orang yang berilmu, dari kalangan Nabi dan orang-orang beriman dengan keyakinan (hati) dan perkataan (ucapan). (Dia) mengatur, dengan mengendalikan makhluq dan ciptaan mereka. Dan di-nashob-kan atas “hal” dengan “amil” didalamnya, bermakna menyeluruh, atau (AlLoh) sendirian, (mengatur) dengan setimbang, yakni seadil-adilnya. Tidak ada Tuhan kecuali Dia, diulangi lagi guna mengokohkan. Dia Maha Perkasa, dalam kerajaan-Nya, lagi Maha Bijaksana, dalam kemauan-Nya.
= Tafsir ayat 19
- Sesungguhnya agama, yang diridhoi, di sisi AlLoh, ialah, Islam, yakni syari’at yang dibawa oleh para Rosul dan dibangun diatas tauhid (meng-esa-kan AlLoh). Dalam satu riwayat di-fathah-kan “anna” yakni badal dari “inna” hingga akhirnya sebagai badal isytimal. Dan tidaklah berselisih orang-orang yang diberi kitab, yakni Yahudi dan Nasrani dalam agama karena sebagian mengaku bertauhid dan lainnya kafir, kecuali setelah datang kepada mereka ilmu, terkait tauhid, akibat kedengkian dari orang-orang kafir, diantara sesama mereka. Dan barangsiapa kafir kepada ayat-ayat AlLoh maka sungguh AlLoh sangat cepat perhitungan-Nya, yakni pembalasan-Nya.
= Tafsir ayat 20
- Jika mereka membantah engkau, orang kafir menyanggahmu wahai Muhammad (shollalLohu ‘alayhi wa sallam) dalam agama, maka katakanlah, kepada mereka itu, aku telah Islam dengan wajahku untuk AlLoh, yakni tunduk kepada-Nya, aku dan, orang-orang yang mengikuti aku. Disebutkan wajah secara khusus mengingat kemulian-nya maka selain (wajah) lebih pantas (tunduk). Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi kitab, yakni Yahudi dan Nasrani, dan orang-orang yang tidak tahu baca-tulis, yakni musyrik ‘Arab, “Maukah kalian masuk agama Islam?”, yakni masuk Islam-lah kamu sekalian. Jika mereka masuk Islam maka sungguh mereka mendapatkan petunjuk, dari kesesatan, dan jika mereka berpaling, dari agama Islam, maka kewajiban engkau hanyalah menyampaikan, atau menyampaikan risalah (firman AlLoh). Dan AlLoh Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya, lalu AlLoh beri balasan kepada mereka atas perbuatannya, dan ayat ini (turun) sebelum perintah berperang.
Tambahan dari Imaam
= Tafsir ayat 18:
- Kata “qoiman” umumnya diartikan berdiri, padahal seperti ayat “ar-rijalu qowwamuna ‘alan nisa”, ia lebih pas diartikan “mengatur”.
- Penulis menyatakan AlLoh mengatur “mashnu’atihi” bukan hanya “kholqihi”, yakni meliputi makhluq ciptaan AlLoh dan apa-apa yang dibuat oleh manusia (seperti : meja, kursi, masjid, rumah, dan sebagainya). Jadi AlLoh mengatur semuanya itu “tafarroda”, yakni sendirian.
- Kata “Al-‘Aziz” berpasangan dengan “Al-Hakim” bermakna AlLoh Ta’ala perkasa dalam Kerajaan-Nya dan bijaksana dalam tindakan-Nya. Berbeda dengan manusia, ia mungkin saja perkasa sebagai Raja, tetapi tidak bijaksana karena ada kepentingan pribadi. Dan mungkin saja ia bijaksana sebagai Hakim, tetapi tidak mampu menjalankan keputusan-nya karena tidak punya kekuasaan.
= Tafsir ayat 19
- Pada kalimat “innaddina” yang artinya “sesungguhnya agama”, menekankan bahwa agama di muka bumi ini kenyataan-nya banyak bukan hanya satu, tetapi agama yang diridhoi AlLoh itu hanya satu, yakni Islam.
- Agama yang dibawa para Rosul itu dibangun diatas Tauhid, sedangkan agama Yahudi dan Nasrani justru berselisih setelah datangnya ilmu tentang Tauhid. Mereka mengenal Nabi Muhammad shollalLohu ‘alayhi wa sallam seperti mengenal anaknya sendiri, tetapi adanya “baghyan” (kedengkian), menyebabkan mereka ingkari ilmu itu, dengan tidak beriman kepada Nabi yang terakhir diutus AlLoh.
- Kedengkian itu dilandasi alasan bahwa Muhammad lahir dari keturunan Isma’il, yakni putra dari Hajar, yang merupakan istri Nabi Ibrohim ‘alayhis salam. Sedangkan istri beliau pertama adalah Sarah, yang melahirkan Ishaq, dan menurunkan Ya’qub alias Isroil. Nah, bagi Yahudi dan Nasrani, kedudukan Hajar di sisi Ibrohim adalah budak, maka anak keturunan-nya juga berstatus budak, sehingga terjadilah penolakan mentah-mentah walaupun ciri-ciri Nabi terakhir itu melekat pada diri Muhammad.
= Tafsir ayat 20
- Kalimat “aslamtu wajhiya lilLah” menggambarkan bahwa wajah yang merupakan anggota tubuh paling dihormati, ternyata diserahkan kepada AlLoh, maka apalagi anggota tubuh selain wajah, sudah pasti berserah-diri.
- Bila Yahudi dan Nasrani menbantah kebenaran Nabi Muhammad maka katakanlah, “Maukah kalian masuk agama Islam?” Inilah bentuk dakwah kita, bukan malah hormat dengan mencium kening mereka. Termasuk agama Islam agar didakwahkan kepada musyrik ‘Arab, yang saat itu buta baca-tulis.
- Ayat ini juga menjawab pertanyaan : bagaimana sikap kita atas perayaan agama lain? Berlakulah “lakum dinukum waluyadin”, silakan saja mereka beribadah, tapi kita sebagai ummat Islam, tidak akan mengikuti ibadah tersebut, karena menyalahi Tauhid !
- Kewajiban Rosul hanya menyampaikan dakwah Islam, dan AlLoh saja yang akan membalas perbuatan mereka.
- Bagi penulis, ayat ini di-mansukh oleh perintah perang, yakni bila suatu kaum tidak mau masuk agama Islam maka diperangi. Para ikhwan boleh saja berpendapat lain, karena ini tafsir dari penulis. Yang tidak boleh itu adalah menolak ayat AlLoh, dengan alasan : ah itu kan pendapat AlLoh, belum tentu sesuai dengan pemikiran manusia. Pemahaman yang salah semacam ini lahir dari ilmu “hermenetika”.
- Pemahaman kita, sesuai hadits, maka ada 3 tahapan dakwah :
1). Menyeru kepada agama Islam,
2). Bila tidak mau masuk Islam maka ditawarkan membayar jizyah. Jizyah itu tidak sama dengan pajak, karena pajak ada kepentingan manusia didalamnya,
3). Bila tidak mau juga masuk Islam, maka baru dilancarkan perang (poin 2 dan 3 dapat dilaksanakan bilamana ummat Islam punya kekuatan).
Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada.