Catatan Jumadal Ula 1446H – Tekuni Ilmu Bebaskan Baytul Maqdis

BismilLah. 
Nasihat Prof. Abdul Fattah al-Awaisyi pada hari Kamis ba’da Shubuh, 19 Jumadal Ula 1446H / 21 Nopember 2024 di Masjid An-Nubuwwah – Natar sbb :

  • Ba’da thamid dan sholawat, beliau sampaikan bahwa merupakan nikmat AlLoh Ta’ala kepada kita pagi ini sehingga dapat melaksanakan sholat Shubuh berjama’ah.
  • Sholat Shubuh adalah ujian dalam kehidupan kita yang singkat ini. Ujian seberapa kuat diri kita menghadapi syaithon yang ada di sekeliling kita. Lalu bagaimana kita mampu membebaskan Masjid Al-Aqsho, bila kita tidak mampu mengalahkan syaython guna melaksanakan sholat Shubuh berjama’ah? Bahkan sholat Shubuh adalah amat berat bagi orang munafiq !
  • Perdana Menteri Israel pada th. 1967 menyatakan bahwa Ummat Islam akan siap membebaskan Masjid Al-Aqsho bilamana jama’ah sholat Shubuh-nya sama banyak dengan jama’ah sholat Jum’at. AlhamdulilLah, saya gembira karena melihat banyaknya jama’ah sholat Shubuh di masjid ini, sehingga peluang pembebasan Masjid Al-Aqsho terbuka lebar. Insya AlLoh.
  • Ingatlah, warga Gaza membela Masjid Al-Aqsho dengan segala apa yang mereka miliki : pikiran, tenaga, rumah bahkan rela mengorbankan darah dan nyawa. Tidak mengapa berkorban darah dan nyawa demi Masjid Al-Aqsho, kata mereka. Mereka sudah melakukan upaya pembelaan, sehingga mereka pun diperangi hingga terbunuh atau diusir paksa. Satu keluarga besar boleh jadi akan berpencar. Ada yang bertahan di rumah mereka, dan ada pula yang terpaksa mengungsi di dalam maupun luar negeri.
  • Untuk mengetahui bagaimana kemuliaan Masjid Al-Aqsho maka kita perlu pelajari ilmunya. Tidak akan timbul rasa cinta dan rasa memiliki, bilamana kita tidak berusaha mengenalnya lebih dalam. Sampai pun keluar rumah (dari Inggris) menuju tempat ini, saya niyatkan untuk tho’at kepada AlLoh Ta’ala, dan meng-ikhlash-kan diri untuk berbagi ilmu tentang Baytul Maqdis kepada kaum muslimin. Semoga dauroh yang berlangsung nanti dicatat oleh AlLoh Ta’ala sebagai bagian dari jihad pembebasan Masjid Al-Aqsho,  aamiin.
  • Perkenalkan nama saya : ‘Abdul Fattah, ayah saya : Muhammad, kakek saya : ‘AbdulLoh, bila terus bersambung silsilahnya akan berujung pada -walLohu a’lam- shohabat Nabi yang bernama Tamim ad-Dariy, asal kota al-Kholil (Hebron), orang Palestina pertama yang masuk Islam.
  • Saya dikenalkan kepada Masjid Al-Aqsho oleh Ibunda. Saat itu saya masih kecil, belum mengerti apa-apa, lebih senang bermain pada saat Ibunda sedang mengikuti sholat berjama’ah, di Qubbatush Shohroh, dalam kompleks Masjid Al-Aqsho. Saya terus saja diajak oleh Ibu, dan suatu hari diberitahu sesuatu, “Abdul Fattah, lihatlah ini batu besar, tempat dimana RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam naik ke atas langit !” Demikianlah Ibunda mengenalkan dan melekatkan cinta saya kepada Masjid Al-Aqsho, walaupun beliau bukan orang terpelajar.
  • Begitu pun Ayahanda, beliau juga bukan orang terpelajar, namun kalimat yang beliau ucapkan sangat berkesan bagi diri saya : “Nak, tanah kita hilang, negeri kita hilang, Baytul Maqdis hilang, dan semuanya itu tidak bisa kembali kecuali dengan menguasai ilmunya.” Dengan pesan itulah saya terus belajar hingga kini, menekuni keilmuan guna pembebasan Baytul Maqdis.

Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada.