BismilLah.
Catatan kajian Tafsir Jalalayn QS. Ali ‘Imron 153-154 bersama Ust. Mastur pd ba’da Shubuh hari Jum’at, 27 Shofar 1447H / 22 Agustus 2025M di Masjid An-Nubuwwah, Natar – Lampung sbb:
= Tafsir ayat 153
(Ingatlah) ketika kamu melarikan diri (kalian berlarian dengan panik di bumi) dan tidak menoleh (memperhatikan) kepada seorang pun, sedangkan Rosul memanggil kamu dari belakangmu (kata “akhor” semestinya berarti “lainnya”, tapi dalam ayat ini dimaknai “belakangmu”. Dan beliau bersabda, “Datanglah kepadaku -wahai- hamba-hamba AlLoh !”) Karena itulah AlLoh menimpakan (maka kalian dibalas dengan) ghomman (yakni kekalahan) bi ghommin (dan kesedihan, karena kalian membuat sedih Rosul dengan menyelisi -perintahnya-. Dikatakan huruf “ba” itu bermakna “ala” yakni “berlipat ganda”, kesedihan itu karena hilangnya ghonimah -rampasan harta-). Agar kamu (berkaitan dengan “memaafkan” atau dengan “menimpakan pada kalian”, adapun huruf “la” -pada kata “likayla”- adalah tambahan) tidak berduka-cita atas apa-apa yang luput dari kamu (yakni ghonimah) dan tidak pula apa-apa yang menimpa kamu (yakni terbunuh dan kalah perang). Dan AlLoh Maha Teliti dengan apa-apa yang kamu kerjakan.
= Tafsir ayat 154
Kemudian AlLoh menurunkan atas kamu, setelah kesedihan itu, “amanatan” (yakni rasa aman) berupa kantuk (badal) yang meliputi (dibaca dengan huruf “ya” dan “ta”, boleh dibaca “yaghsya” juga “taghsya”) segolongan dari kamu (yakni mereka adalah orang-orang beriman, maka mereka “yamidun” terlelap di balik tameng dan sebagian mereka jatuh pedang-pedangnya). Dan segolongan mereka sungguh dicemaskan oleh diri mereka sendiri (atau mereka cemas memikirkan nasib dirinya hingga tak ada kemauan bagi mereka kecuali menyelamatkan diri sendiri, tanpa peduli nasib Nabi dan para shohabatnya. Mereka tidak bisa tidur dan mereka adalah orang-orang munafiq). Mereka menyangka kepada AlLoh (persangkaan) selain (persangkaan yang) benar, yakni persangkaan (atau seperti) jahiliyyah (dengan keyakinan -bodoh- bahwa Nabi benar-benar terbunuh atau tidak ditolong). Mereka berkata : “Apakah (tak ada) bagi kami urusan (atau pertolongan yang telah Kami janjikan untuknya -Nabi-) dari sesuatu pun?” Katakanlah -Nabi- (kepada mereka) sesungguhnya urusan ini seluruhnya (dengan “nashob” sebagai penegasan dan dengan “rofa'” sebagai mubtada` dengan khobar-nya) bagi AlLoh (merupakan ketentuan dari-Nya. Ia berbuat apa yang dikehendaki-Nya). Mereka menyembunyikan dalam dirinya apa-apa yang tidak mereka sampaikan (mereka tampakkan) kepadamu -Nabi-. Mereka berkata (menjadi penjelas bagi huruf “ma” sebelumnya) “Seandainya bagi kami dari urusan ini ada sesuatu, tidaklah kami terbunuh disini” (atau seandainya ada pilihan kapada kami, tidaklah kami keluar sehingga kami terbunuh, namun kami keluar karena terpaksa). Katakanlah -Nabi- (kepada mereka) seandainya kalian berada di dalam rumah kalian (dan bagi kalian ada ketetapan AlLoh untuk terbunuh) labaroza (keluarlah) orang-orang yang dituliskan (ketetapan) atas mereka kematian (dari kalian) menuju tempat terbunuhnya mereka (maka terbunuh dan tidak ada yang dapat menolong apapun dari usaha mereka karena ketetapan-Nya yang Maha Tinggi terjadi tanpa sesuatu pun dapat menolaknya). Dan (dilakukan-Nya apa-apa yang dilakukan-Nya di perang Uhud) untuk menguji (menyingkap) AlLoh apa-apa yang ada di dada kalian (yakni hati kalian dari ke-ikhlash-an dan ke-munafiq-an). Dan agar membersihkan (menampakkan) apa-apa yang ada dihati kalian. Dan AlLoh Maha Mengetahui dengan isi dada -manusia- (dengan apa-apa yang ada di hati yang tidak tersembunyi atasnya sesuatu dan hanyasanya menguji untuk menampakkan hal itu bagi manusia).
Hikmah (bagi penulis ringkasan) sbb:
1). Muslimin ditimpa kesedihan diatas kesedihan karena telah membuat sedih RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam, dengan cara menyelisihi perintah beliau. Dengan demikian jangan pula kita (saat ini) menyelisihi perintah Kholifatur-Rosul (pengganti Rosul, yakni Imaamul Muslimin, termasuk para amir yang telah diamanati Imaam).
2). Orang-orang munafiq menyangka buruk kepada AlLoh ‘Azza wa Jalla, bahwa Dia tidak menolong Nabi-Nya, lalu dengan seenaknya menyalahkan RosululLoh. Demikian pula hari ini, kalau ada sebagian muslimin yang menyalahkan RosululLoh (beserta pengganti beliau, Kholifatur-Rosul, selama dalam al-Haq) maka harus ada kekhawatiran bahwa dirinya akan tergolong munafiq (wa na’udzu bilLahi min dzalika).
3). Nabi diperintahkan untuk menyatakan bahwa menang atau kalah itu semuanya urusan AlLoh. Peristiwa kekalahan muslimin kapan pun adalah ketetapan AlLoh, untuk menguji dan memperlihatkan siapa saja diantara kaum muslimin yg benar-benar beriman dan siapa yg munafiq.
# Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada





