Catatan Sya’ban 1446H – Kelahiran Nabi ‘Isa bin Maryam

BismilLah.

The Cradle of Jesus (مهد عيسى), according to the tradition, refers to a small recessed marble alcove inside a small chamber (known as the Chamber of Virgin Mary or Oratory of Mary) situated in the south-eastern corner of the Temple Mount. Source : https://madainproject.com/cradle_of_jesus


Catatan kajian Tafsir Jalalayn QS.Ali ‘Imron 46-49 bersama Ust.Mastur pada ba’da Shubuh hari Jum’at, 08 Sya’ban 1446H / 07 Pebruari 2025M di Masjid An-Nubuwwah, Natar – Lampung sbb:

= Tafsir ayat 46

  • Dan dia berbicara dengan manusia sewaktu dalam buaian, yakni sewaktu masih kecil, yang belum saatnya untuk berbicara, dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk orang-orang yang sholih.

= Tafsir ayat 47

  • Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku! (ada kata “annaa”, yakni) Bagaimana ada padaku seorang anak sedangkan belum menyentuh diriku seorang laki-laki, dengan menikah dan selainnya?” AlLoh berfirman, “Urusannya, seperti itulah, dari penciptaan anak kamu tanpa Bapak.” AlLoh menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Dia menghendaki suatu urusan, seperti ingin menciptakan, maka hanyalah (berlaku) dengan mengatakan bagi urusan itu, “Jadilah,” maka jadilah dia, yakni maka terjadilah ia.

= Tafsir ayat 48

  • Dan Dia (AlLoh) mengajarkan kepadanya (Nabi ‘Isa), ada qori’ yang membaca dengan huruf nun (yakni : wa nu’allimuhu) dan ada pula dengan huruf ya (sebagaimana yang kita baca saat ini), Al-Kitab yakni menulis, dan hikmah, dan Taurot dan Injil.

= Tafsir ayat 49

  • Dan, Kami jadikan dirinya, sebagai seorang rasul kepada Bani Isroil, di waktu Nabi ‘Isa masih kecil atau sesudah balig. Lalu Jibril meniup leher baju Maryam sehingga ia pun hamil. Adapun keadaan selanjutnya diceritakan dalam surat Maryam (QS.19:16-34).
  • Maka tatkala Isa dibangkitkan AlLoh sebagai rosul kepada Bani Isroil, dia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku ini utusan AlLoh kepada kalian, dan sungguh aku datang kepada kalian dengan membawa suatu tanda, yakni bukti atas kebenaranku, dari Tuhan kalian, yaitu, bhw aku, dalam suatu qiroah dibaca “kasroh isti’naf”, dapat menciptakan, yakni membuat sebentuk patung, bagi kalian dari tanah seperti burung, yakni menyerupainya, huruf “kaf” adalah isim yang menjadi “maf`ul”. Kemudian aku meniup ke dalamnya, “dhamir”-nya kembali kepada huruf kaf, maka jadilah seekor burung, menurut suatu qiraat dibaca thoo-iron, dengan idzin AlLoh, yakni dengan kehendak-Nya.” Maka diciptakan oleh Nabi ‘Isa bagi mereka (kelelawar) karena itulah burung yang paling sempurna kejadiannya. Lalu burung itu terbang, sementara mereka melihatnya. Setelah hilang dari pandangan mereka, (kelelawar itu pun) jatuh dan mati.
  • Dan aku (Nabi ‘Isa) menyembuhkan orang yang buta, yakni orang buta semenjak lahir, dan (menyembuhkan) orang yang berpenyakit kusta. Disebutkan kedua penyakit ini secara khusus karena sakitnya tidak dapat disembuhkan, sedangkan dia (Nabi ‘Isa) dibangkitkan pada zaman hebatnya pengobatan (kedokteran). Maka dalam satu hari dia menyembuhkan 50 ribu penderita melalui do’a, dengan syarat mereka (yang sakit) beriman (kepada ajaran Nabi ‘Isa).
  • Bahkan aku menghidupkan orang yang mati dengan idzin AlLoh, diulanginya itu (kalimat bi-idznilLah) untuk melenyapkan dugaan bahwa dia (Nabi ‘Isa) memiliki sifat ketuhanan. Maka dihidupkanlah ‘Azir, seorang sahabatnya, lalu anak lelaki dari seorang perempuan tua, lalu seorang gadis berusia sepuluh tahun. Mereka itu hidup hingga beranak-pinak. Juga dihidupkan Sam bin Nuh, lalu tiba-tiba meninggal pada waktu itu juga.
  • Dan aku beritakan kepada kalian apa-apa yang kamu makan, dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumah kalian, padahal aku tidak pernah melihatnya. Maka dikabarkanlah kepada masing-masing orang apa yang telah mereka makan dan apa yg akan dimakan oleh mereka nantinya. Sesungguhnya yang demikian itu, peristiwa yang disebutkan tadi, menjadi tanda bagi kalian, jika kalian betul-betul beriman.

Tambahan dari Ust.Amin Nuroni

  • Kisah mu’jizat Nabi ‘Isa ‘alayhis salam yang luar biasa diatas seakan-akan menggambarkan adanya sifat ke-Tuhan-an pada diri beliau, sehingga sebagian saudara kita (sesama manusia) menganggap bahwa ‘Isa bin Maryam adalah Tuhan, bukan lagi manusia. Itulah hasil simpulan musyawaroh para alim diantara mereka.
  • Sifat ke-Tuhan-an yang mereka saksikan saat itu adalah mu’jizat “mampu menghidupkan manusia yang sudah lama mati”, sebagaimana sifat Tuhan yang digambarkan oleh Nabi Ibrohim dlm QS.Al-Baqoroh 258. Kemudian beliau juga “mampu menyembuhkan penyakit, bahkan yang mustahil sembuh”, sebagaimana sifat Tuhan yang digambarkan oleh Nabi Ibrohim dalam QS.Asy-Syu’aro 80. Lalu beliau juga “mampu mengetahui hal yang ghoib berupa makanan kaumnya”, (sebagaimana sifat Tuhan yang digambarkan oleh Nabi Ibrohim dalam QS.Al-Baqoroh 259).
  • Berdasar petunjuk AlLoh Subhanahu wa Ta’ala melalui kitab Al-Quran, kita selaku muslim, mengetahui bahwa semua mu’jizat itu diberikan kepada Nabi ‘Isa dengan idzin AlLoh semata (yakni kalimat bi-idznilLah dalam ayat 49). Dengan demikian kita yakin penuh bahwa ‘Isa bin Maryam adalah manusia, utusan AlLoh, bukan Tuhan.

Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada.