BismilLah.

33). Makar Atas Masjid Al-Aqsho Terencana Dengan Matang
Sahabat, rencana Zionis Yahudi untuk menggantikan Masjid Al-Aqsho dengan Kuil Yahudi ke-III bukanlah bualan semata, namun benar-benar mereka persiapkan dengan sebaik-baiknya. Apa buktinya?
Setidaknya dari rangkaian tulisan kami sampai saat ini (bisa klik disini) yang berjudul “Ada Apa Dengan Masjid Al-Aqsho”, dengan kata kunci “The Temple Institute”, maka akan ditemukan 8 video promosi terbuka mereka tentang Kuil impian tersebut.
Pada bulan Agustus 2024M lalu, di saat Perang Genosida yang dilancarkan Zionis Israel atas warga Gaza-Palestina masih berlangsung, mereka meluncurkan lagi video promosi tentang langkah apa saja yang sudah ditempuh dan rencana ke depan. Video dapat sahabat saksikan (dengan klik disini)
Video promosi itu dipersembahkan secara terbuka di channel Youtube, tanpa sensor, tanpa penandaan sebagai media yang memancing keributan antar agama. Lalu apa reaksi kita sebagai Muslim, hanya diam saja, atau mulai bergerak merencanakan sesuatu?
The Temple Institute : MEMBANGUN KUIL SUCI
(Terjemah bebas dari Video diatas)
- Yitzchak Reuven : menjabat Direktur dari International Departement of the Temple Institute menyatakan bahwa target hari ini adalah merengkuh seluruh bagian dunia dan menebarkan perhatian manusia atas Kuil Suci (kemudian dia memperkenalkan staf lainnya).
- Azarya Ariel : menjabat penanggung-jawab Research Departement menyatakan bahwa dua tahun lalu sapi merah telah tiba di Israel. Setiap sapi merah tersebut memiliki warna sempurna, tanpa ada rambut hitam atau putih. Hari ini sapi merah itu sudah ada disini, tapi kita masih punya tantangan untuk membuat persiapan (upacaranya). Kami perlu tempat yang tepat untuk kurban, yang menghadap langsung ke arah Kuil Suci (yakni Qubbatush Shokhroh di kompleks Masjid Al-Aqsho). Kami juga perlu menunjuk “kohen” (pemimpin ibadah dari keturunan Nabi Harun) saat menjalankan upacara penyucian. Hanya melalui sapi-sapi merah inilah kami akan membebaskan diri dalam upacara itu sehingga mencapai tingkat suci. Dengan status suci itulah kami kemudian dapat menjalankan semua perintah terkait Kuil Suci.
- Simshon Elbaum : menjabat Pengarah reka ulang peristiwa bersejarah terkait upacara Kuil Suci, yakni acara sakral yang akan diadakan pada saat mereka berziyarah. Hari ini kami dapat melaksanakan reka-ulang upacara ibadah begitu dekat dengan Temple Mount (Bukit Kuil -menurut Yahudi dan Kristen- atau kota Baytul Maqdis -menurut Islam-).
- Avraham Kahana : saya adalah seorang “kohen” yang harus mengenakan pakaian khusus ibadah, maka saya bersiap penuh untuk memperbarui layanan di Kuil Suci. Setiap tahun, dalam aneka hari raya, kami, para kohen melaksanakan reka-ulang layanan Kuil Suci. Termasuk dalam upacara Paskah, Sukkot Water Libation (persembahan air Sukkot) dan sebagainya. Kami terus-menerus bekerja untuk melengkapi kesiapan layanan di Kuil Suci yang akan dibangun kembali.
- Menachem Rosental : saya bergabung disini untuk mempromosikan proyek dan membentuk paduan suara orang-orang Levi (yakni keturunan Levi, anak ketiga Nabi Ya’qub) dari berbagai penjuru, untuk belajar dan bernyanyi. (Kedua) hal itu berarti membangun, mengambil tindakan dan bersiap untuk suatu hari nanti, akan berdiri di podium Kuil untuk melantunan nyanyian ibadah.
- Raphaella : salah satu proyek menantang saat ini adalah publikasi sebuah buku baru dalam Bahasa Inggris, tentang apa makna tersirat dari layanan Kuil Suci. Kita akan bicara tentang layanan harian (di Kuil Suci). Setiap upacara punya pesan tersendiri, yang mana Tuhan (selalu ditulis G-d, tanpa huruf “o”) bicara kepada kita, dan kita bicara dengan Dia. Buku ini luar biasa besar perannya untuk rakyat Israel dan seluruh warga dunia.
- Yehoshua Friedman : beberapa tahun lalu Temple Institute memutuskan untuk mengadakan pendidikan tradisional (madrasah studi literatur Rabbinik , yang mengacu pada Talmud dan halacha -hukum Yahudi-) bagi anak muda Yahudi. Yang unik disini adalah mengajarkan halacha dan bagaimana penerapan-nya, ketika Kuil Yahudi segera dibangun kembali.
- Natan Tzvi Brinn : saya pelajar di Yeshivat Hamikdash. Apa yang spesial disini adalah kami belajar apa yang harus dilakukan secara berurutan. Rabbi-ku adalah Rabbi Yehoshua Friedman, dan dia mendorong kami untuk berpikir dengan dasar pemikiran penebusan. Kami tahu bahwa kami harus punya pengetahuan sebanyak mungkin untuk dapat mengemban perintah yang kami pelajari. Kami belajar sebagaimana topik bahasan dan mempraktekkannya seperti halnya kami lakukan, sehingga saat peluang itu terbuka untuk melakukannya (di Kuil Suci yang dibangun kembali), maka kami siap untuk itu.
- Yitzhar Sarid : saya pelajar di Mikdash Yeshiva. Di sana kami belajar hal-hal terkait Kuil Suci, dan bagaimana cara hidup pada zaman penebusan akhir. Inti pembicaraan (kelas ini) langsung pada jantung rakyat Israel dan Kuil Suci, yang nantinya akan menyinarkan kesucian ke seluruh dunia. Visi saya adalah Yeshiva Beit Midrash ini dipenuhi ratusan pelajar muda dan para guru, yang siap bekerja tanpa lelah, siang-malam, untuk menyelami dan belajar akan kehebatan pengajaran Taurot terkait Kuil Suci. Semoga pembelajaran kami, dengan idzin G-d, menolong dan membawa percepatan pembangunan kembali Kuil Suci, yang telah menjadi mimpi kami bersama!
- Samara Hendrickson : saya adalah Content Manager untuk komunitas global dari The Temple Institute. Departemen kami bertanggung-jawab atas materi pengajaran Kuil Suci yang kami tebar di platform (wadah dijital) media sosial. Pengajaran meliputi tentang Kuil Suci, juga rincian kegiatan dan pekerjaan apa saja yang sudah diselesaikan untuk (pembangunan) Kuil Suci. Misi kami adalah menjangkau setiap orang di seluruh dunia, dan membuat satu komunitas global yang kuat, diperuntukkan bagi siapa saja yang tertarik untuk belajar akan pentingnya Kuil Suci.
- Gilad Rothshtein : saya adalah Direktur dari The Temple Intitute. Visi kami di Institut ini adalah membuat setiap usaha yang mungkin untuk dilakukan guna membangun kembali Kuil Suci. Mungkin saja itu segera terjadi. Kini tujuan kami adalah memenuhi perintah G-d, “Buatkan untuk Aku tempat ibadah dan Aku akan tinggal bersama kalian.” (Exodus 25:8). Juga untuk memenuhi nubuwwat dan kalimat suci bahwa “Rumah-Ku akan menjadi rumah ibadah bagi seluruh bangsa.” Kita menyaksikan, setiap hari terjadi pergeseran besar dalam kesadaran nasional dan keinginan nasional (negara Israel) untuk maju membangun Kuil Suci. Kita wajib bekerja dengan seluruh kekuatan, dan terus mendorong pembangunan kembali Kuil Suci, sesegera mungkn dan terjadi di hari-hari kita.
- Yisrael Ariel : 57 tahun yang lalu kami mendapatkan kehormatan, saya dan pengikut saya dari pasukan terjun payung, yang menaklukkan Bukit Kuil (Baytul Maqdis) masuk kembali ke Kuil Suci (Masjid Al-Aqsho). Lalu kami merayakan dan menyanyikan lagu “Hallel Psalm” sebuah kesyukuran. Saat itu tangis bahagia luar biasa menyelimuti empat penjuru bumi. Warga Israel pantas mendapatkan mukjizat dengan kembali masuk ke Kuil Suci setelah 2.000 tahun lamanya. Kita tahu kenyataan yang terjadi saat ini. Inilah misi warga Israel hari ini, kita harus kembali ke Kuil Suci. Hanya saat kita mampu kembali ke Kuil Suci, maka kita akan diberkahi dengan damai !
(Selesai terjemah)
Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada.