
BismilLah.
Hari Sabtu 23 Nop 2024M pk. 08:00 s/d 11:30 WIB
– Saat ini muslimin baru sampai pada tahap “fahum” tetapi belum punya teori pembebasan Masjid Al-Aqsho.
– Kita akan melihat bagaimana upaya RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam dalam membebaskan Masjid Al-Aqsho dari sisi strategi.
– Di masa RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam hidup, Masjid Al-Aqsho dijajah oleh Romawi dan Persia, sebagaimana keduanya pada masa itu menguasai dunia.
– Awal QS. Ar-Rum menyampaikan kepada kita bagaimana keadaan Romawi Timur (Bizantium) yang berhasil dikalahkan Persia.
– Strategi RosululLoh shollaLohu ‘alayhi wa sallam ada tiga tahapan sbb:
- 1). Menyiapkan pengetahuan tentang Masjid Al-Aqsho (I’dad Ma’rifi)
- 2). Menyiapkan siyasah (I’dad Siyasi -syar’iyah-)
- 3). Menyiapkan kekuatan militer (I’dad Askari)
– Persiapan pengetahuan sudah dimulai ketika beliau berada di Makkah, bahkan di awal peristiwa Muhammad diutus sebagai Rosul. Awal ayat Al-Quran turun adalah perintah “iqro”, bukan perintah jihad, bukan perintah lainnya, yakni untuk menyebut nama Tuhan yang menciptkan manusia. Secara makna tersirat, bahwa beliau shollalLohu ‘alayhi wa sallam diperintahkan untuk mencari dan menerima pengetahuan.
– Untuk persiapan pengetahuan tersebut, sudah berapa banyak buku tentang Masjid Al-Aqsho yang kita baca? Belum ada? Lalu bagaimana kita akan dapat membebaskannya bila seperti ini keadaannya?
– Bandingkan juga dengan keadaan kita saat membaca QS. Al-Isro seluruhnya. Mungkin terjadi hanya 1 kali dalam setahun, yakni di bulan Romadhon, padahal RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam membacanya setiap malam.
– Surat yang turun setelah QS. Al-Alaq adalah QS. Al-Muzzammil, yang berisi perintah untuk sholat dengan menghadap Qiblatul Ula, yakni ke arah Masjid Al-Aqsho. Jadi pembicaraan tentang Masjid Al-Aqsho sudah dimulai pada masa awal-awal dakwah Al-Islam, bukan setelah peristiwa Isro’ Mi’roj terjadi !
– Patut diingat, pada saat kita bicara tentang Masjid Al-Aqsho maka materi itu sudah termasuk dakwah Al-Islam. Bila kita bicara Al-Islam tanpa menyertakan Masjid Al-Aqsho, maka jelas ada sesuatu yang hilang!
– Berdasar sejarah, sebanyak 40 shohabat RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam melaksanakan sholat di bayt Arqom bin Abil Arqom pada th. ke-5 ke-Nabi-an. Sholat pada masa itu berlangsung sebanyak 3 kali : waktu pagi, sore dan sholat malam.
– Suatu kali shohabat Arqom ingin pergi ke Baytul Maqdis untuk memenuhi keinginan-nya sholat di sana. Ia lalu memberitahukan keinginannya kepada Nabi shollalLohu ‘alayhi wa sallam. Ketika beliau tahu bahwa shohabat-nya pergi bukan dalam rangka bisnis atau keperluan lain, tapi untuk mengunjungi Baytul Maqdis, maka beliau menganjurkan untuk sholat di Masjid An-Nabawiy, yang pahalanya 1.000 kali lebih baik dari masjid lain kecuali Masjid Al-Harom. Lalu Arqom duduk dan tidak jadi bepergian (Siyar a’lamin nubala 2/480)1
– Berapa lama RosululLoh dan para shohabat sholat menghadap Masjid Al-Aqsho? Yakni selama 14 tahun lebih 4-5 bulan. Hal ini dihitung berdasar masa beliau berada di Makkah selama 13 tahun, ditambah masa beliau berada di Madinah selama 16 atau 17 bulan, dengan ber-qiblat ke arah Baytul Maqdis (setelah itu turun ayat yang memalingkan arah qiblat ke Masjid Al-Harom).
– Hubungan aqidah terjadi karena Masjid Al-Aqsho merasa dimiliki oleh RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam dan para shohabatnya sejak awal agama Islam didakwahkan.
– Ayat-ayat Makiyah merupakan pembaharuan aqidah karena kaum Quroisy saat itu menyembah patung. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah merupakan pelengkap yang membantu keberlangsungan Daulah Islamiyah.
– Dari penelitian Professor, sebanyak 1/3 bagian Al-Quran itu membicarakan Baytul Maqdis, bila melihat tempat turun ayatnya, ternyata mayoritas adalah Makkiyah. Poin inilah yang menandakan bahwa Masjid Al-Aqsho adalah bagian dari aqidah Islam.
1Dengan penyebutan Masjidku oleh Nabi shollalLohu ‘alayhi wa sallam maka kisah shohabat Arqom tersebut terjadi setelah hijroh Nabi, dengan posisi Arqom dan Nabi ada di Madinah, bukan di Makkah. WalLohu a’lam.
Hari Sabtu 23 Nop 2024M pk. 13:00 s/d 15:00 WIB
– Tadabbur QS. Maryam ayat ke-16 s/d 36.
– Ayat 16 bermula dari nadzar Ibu dari keluarga ‘Imron yang ingin punya anak laki-laki untuk mengurus Masjid Al-Aqsho. Ternyata yang lahir adalah anak perempuan, yakni Maryam ‘alayhis salam. Kalimat “menjauh” bermakna Maryam menjauh dari rumah keluarganya untuk menyepi beribadah kepada Alloh Ta’ala (sebagaimana tahannuts-nya RosululLoh).
– Ayat 17 ada kalimat “hijaban”, yakni gundukan tanah seperti bukit kecil yang memisahkan antara Maryam dan keluarganya. Lalu datanglah malaykat Jibril ‘alayhis salam dalam rupa manusia laki-laki sempurna.
– Ayat 18-21 mengkisahkan dialog antara Maryam dan malaykat Jibril, tentang akan hamil-nya Maryam dan melahirkan seorang anak laki-laki. Kejadian ini lebih mudah bagi Alloh Ta’ala daripada menciptakan manusia awal kali, Nabi Adam ‘alayhis salam.
– Ayat 22 mengkisahkan begitu terasa hamil, Maryam berjalan sejauh 15 km hingga ke tempat dirinya melahirkan. Ibnu Mas’ud rodhiyalLohu ‘anhu menjelaskan waktu hamil s/d melahirkan itu hanya berlangsung selama satu hari.
– Ayat 23 mengkisahkan karena beratnya pikiran dan emosi Maryam dalam memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan kaumnya terkait anak yang nanti akan dilahirkannya, ia berdo’a meminta kematian. Maryam saat itu duduk (dengan menegakkan kedua betisnya) bersandar ke pangkal pohon kurma yang sudah tua.
– Ayat 24 mengkisahkan Nabi ‘Isa yang menenangkan Ibu-nya, Maryam, dengan perkataannya. Ada riwayat yang menyatakan bahwa orang yang bicara itu adalah Jibril, tetapi yang lebih patut diterima secara akal adalah bayi ‘Isa yang bicara ketika akan keluar dari rahim Ibu-nya. Dan disediakan anak sungai oleh Jibril ‘alayhis salam, padahal tidak ada mata air di sekitar tempat itu.
– Ayat 25 mengkisahkan bagaimana Maryam diperintahkan untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma yang sudah tua dan tidak mungkin lagi berbuah. Kalimat “wa huzziy” yakni menggoyangkan pohon, bagi Ibu yang baru melahirkan dengan kondisi amat lemah, adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi yang diperintahkan dalam ayat ini adalah “amal” (usaha menggoyang pohon), adapun “hasil” (jatuhnya buah kurma masak) adalah urusan Alloh Ta’ala.
– Ayat ke-25 ini sekaligus menandakan adanya mata air istimewa di Baytul Maqdis, yang disebut sebagai “Soraya”, sebagaimana mata air Zam-zam di Baytul ‘Atiq.
– Jika kita ingin menyaksikan kebebasan Masjid Al-Aqsho maka ayo lakukan sesuatu untuk pembebasannya. Bila pun ummat Islam saat ini dinilai lemah, sebagaimana kondisi Ibunda Maryam yang saat itu lemah, maka harus tetap ada usaha untuk membela dan membebaskan Masjid Al-Aqsho, sedangkan hasilnya kita serahkan kembali kepada Alloh Ta’ala.
– Simpulan :
1). Masjid Al-Aqsho adalah qiblatul ula lil muslimin selama 14 tahun lebih 4-5 bulan.
2). Baytul Maqdis juz-in minal aqidah
– Awal QS. Ar-Rum menjelaskan tentang kondisi Masjid Al-Aqsho yang dijajah Romawi Timur lalu berganti dengan Persia. Perebutan situs tersebut menjadi penyulut Perang Dunia antara dua kerajaan adidaya saat itu. Di setiap masa, semua negara adidaya ingin menguasai Baytul Maqdis karena siapa yg menguasainya berarti menguasai Dunia.
– Demikian pula negara adidaya dunia Inggris, jelang Perang Dunia ke-I, mencari jalan untuk menguasai Baytul Maqdis.
– Yang terkait dengan QS. Ar-Rum adalah QS. At-Tin. Surat At-Tin menunjuk pada tiga tempat : Palestina, Mesir dan Saudi. Surat At-Tin turun pada tahun ke-5, sedangkan QS. Ar-Rum turun pada tahun ke-6.
3). Posisi Baytul Maqdis secara geo-politik didasarkan pada :
- QS. Maryam yang menjelaskan keterkaitan personal,
- QS. At-Tin yang menjelaskan keterkaitan regional, dan
- QS. Ar-Rum yang menjelaskan keterkaitan global.
Hari Sabtu 23 Nop 2024M pk. 16:13 s/d 17:30 WIB
– Peristiwa Isro’ dan Mi’roj merangkum 3 hal : qiblatul ula, juz-un min aqidah dan kondisi geo-politik.
– Dalam peristiwa tersebut ada dua macam perjalanan, di Bumi dan Langit, dengan bermarkaz di Masjid Al-Aqsho (ia merupakan gerbang Bumi menuju Langit).
– Lalu mengapa Alloh Ta’ala meng-Isro’-kan Nabi Muhammad shollalLohu ‘alayhi wa sallam dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho?
- 1). Masjidil Harom sebagai hudan lil ‘alamin (markaz hidayah).
- 2). Masjidil Aqsho sebagai barokah lil ‘alamin (markaz barokah).
- 3). Awal lahirnya kehidupan manusia dimulai dari Makkah, sedangkan akhir kehidupan manusia berada di Baytul Maqdis.
- 4). Bila muslimin ingin menguasai Dunia maka Baytul Maqdis harus kembali ke tangan ummat Islam.
Hari Sabtu 23 Nop 2024M pk. 20:00 s/d 22:00 WIB
– Tentang kapan terjadinya Isro’ Mi’roj, berdasar penelitian Prof. Moh. Ruslan Moh. Nur asal Malaysia, beliau menunjuk tgl. 27 Rojab tahun ke-12 Kenabian.
– Adapun bila merujuk pendapat Dr. Ahmad Naufal asal Jordania, bahwa peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan masa Kenabian, maka waktunya kira-kira 18 bulan sebelum Hijroh. Simpulan itu dihitung dari (awal) waktu turunnya QS. Al-Alaq pada bulan Romadhon 12 tahun sebelum hijroh hingga (akhir) wafatnya RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam pada tahun ke-11 hijroh.
– Peristiwa Isro’ Mi’roj terjadi setelah datangnya masa kesedihan (berturut-turut) sbb:
- 1). Terjadinya boikot atas Bani Hasyim selama 3 tahun,
- 2). Wafatnya paman beliau : Abu Tholib
- 3). Wafatnya istri beliau : Khodijah Ummul Mukminin
– Dengan rasa sedih atas kehilangan pedukung dakwah di Makkah, beliau berusaha mengalihkan dakwah ke arah Thoif.
– Dakwah di Thoif ternyata disambut dengan penolakan keras, beliau disakiti dengan lemparan batu, yang menyebabkan kakinya terluka dan berdarah.
– Terjadinya penolakan dakwah oleh penduduk Thoif, sedangkan beliau tidak lagi diterima oleh penduduk Makkah menyebabkan beliau mengadu kepada Alloh Ta’ala. Pengaduan beliau ini dikenal sebagai do’a Thoif, yang berisi kegundahan sbb :
- 1). Lemahnya kekuatan,
- 2). Lemahnya pemikiran,
- 3). Hinanya kedudukan beliau di hadapan manusia.
– Ketika akhirnya harus kembali ke kota Makkah dan ditolak kehadirannya, maka ada seorang musyrik Makkah yang bersedia menjamin keamanan beliau. Atas jaminan itulah beliau pergi ke rumah Ummu Hani. Pada malam harinya, malaykat Jibril membawakan hewan Buroq kepada beliau dalam rangka menjalani peristiwa menakjubkan : Isro’ dan Mi’roj.
– Setelah kembali dari Sidrotul Muntaha dan memimpin sholat para Nabi di Masjid Al-Aqsho, beliau menerima dua panji, yakni :
- 1). Panji Tauhid, dan
- 2). Panji kepemimpinan muslimin atas Dunia.
-Simpulan :
- 1). Semua upaya amal tanpa dikaitkan dengan pembebasan Masjid Al-Aqsho maka akan sia-sia.
- 2). Tidak ada kejayaan bagi muslimin saat meninggalkan Masjid Al-Aqsho dalam keadaan terjajah.
Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada.
Bagi pembaca yang ingin menyimak bagian lainnya, silakan klik tautan di bawah ini…
Kembali ke Bagian ke-I (klik disini)
Lanjutkan ke Bagian ke-III (klik disini)