
BismilLah.
Catatan Ta’ziyah (التعزية) bersama Imaamul Muslimin : Ust. Yakhsyallah Mansur pada hari Selasa ba’da Isya 02 Jumadats Tsani 1446H / 03 Desember 2024M di kediaman Asy-Syahid Nur Ikhwan Abadi (almarhum), Dusun Muhajirun, Natar – Lampung sbb:
- Malam ini adalah hari ke-3 kita adakan ta’ziyah, yakni dalam rangka menghibur keluarga Mas Nur Ikhwan Abadi almarhum, yang meninggalkan seorang istri dan delapan putra-putrinya.
- Pada saat tertimpa musibah, kita dianjurkan untuk berdo’a sebagaimana diajarkan oleh RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam, yakni :إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيۡهِ رَاجِعُونَ، اللّٰهُمَّ أۡجُرۡنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخۡلِفۡ لِي خَيۡرًا مِنۡهَا [Innaa lilLaahi wa innaa ilayhi rooji’uun, alLoohumma ajurnii fii mushiibatii wa akhliflii khoyron minhaa] yang artinya, “Sesungguhnya kami adalah milik AlLoh dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya AlLoh, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah aku dengan yang lebih baik daripadanya.” (HR.Muslim 918)
- Sedangkan bagi yang datang berta’ziyah, hendaknya mendo’akan keluarga yang ditinggalkan :”أعظم الله أجرك وأحسن عزاءك وغفر لميتك” [A’zhomalLoohu ajroka wa akhsana ‘azaa-aka wa ghofaro li mayyitika] yang artinya, “Semoga AlLoh perbesar pahalamu, dan menjadikan baik dukamu, dan mengampuni jenazahmu.” (Kitab Al-Adzkar li An-Nawawi hal.126)
- Wafatnya mas Nur Ikhwan Abadi termasuk syahid, sebagaimana kesaksian Prof. Mahmud Anbar, yang sudah lama bergaul dengan almarhum baik semasa pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza – Palestina maupun setelahnya. Almarhum sudah menyelesaikan tugasnya, mengawal rangkaian kegiatan Bulan Solidaritas Palestina 2024 sebulan penuh dan menutupnya secara resmi kemarin, sebelum kewafatan beliau.
- Menghadapi kematian seseorang yang dicintai memang akan menyebabkan kita sedih, sebagaimana sedihnya RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam ketika putra beliau yang bernama Ibrohim (18 bulan) akhirnya wafat, setelah sakit cukup lama. Kesedihan beliau dibarengi dengan tangis dan airmata, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya mata ini menangis, hati ini berduka, namun kita tidak mengatakan kecuali perkataan yang Rabb kita ridhai. Dan sesungguhnya kami benar-benar berduka berpisah denganmu, wahai Ibrohim.” (HR.Bukhori 1303)
- Beliau membolehkan menangis tapi melarang niyahah (meratap, menangis dengan keras, menjerit dengan menyebut kebaikan si mayit, menyobek baju). Termasuk hal yang dilarang adalah apa yang dilakukan oleh kaum Syi’ah pada hari ‘Asyuro, yang mereka sengaja memukuli diri sendiri hingga luka berdarah.
- Bersamaan dengan wafatnya Ibrohim, qudarulLoh terjadi gerhana matahari, sebagian orang berkata bahwa matahari berduka karena wafatnya putra Nabi. RosululLoh begitu mendengar perkataan tersebut, langsung menegur dalam khutbahnya, yang berisi pernyataan bahwa gerhana terjadi sebagai tanda kebesaran AlLoh Ta’ala, bukan karena kematian atau kelahiran seseorang (HR.Bukhoriy 1044).
- Sore hari Prof. Mahmud Anbar bercerita bahwa dirinya mimpi bertemu dengan mas Nur Ikhwan saat qoylulah (tidur siang sejenak), bukan hanya sekali, tapi dua kali. Dalam mimpinya, beliau bertemu dengan mas Nur Ikhwan yang tersenyum, lalu memeluk dan mencium keningnya. Beliau lalu bertanya kepada saya, apa tafsir mimpi itu? Saya tidak berani menjawab karena beliau Profesor bidang tafsir, malah saya balik yang bertanya, “Menurut Profesor, apa tafsirnya?”
- Beliau memberikan jawaban : dalam tradisi Arab, bila seseorang mencium kening orang lain maka orang yang dicium itu -secara umum- kedudukannya lebih tinggi daripada yang mencium. Jadi menurut Profesor, mas Nur Ikhwan lebih tinggi kedudukannya daripada beliau. Maa sya AlLoh.
- Lalu berganti Profesor yang bertanya kepada saya, menurut Imaam apa tafsirnya? Saya menyampaikan bahwa pertemuan itu melambangkan begitu cintanya mas Nur Ikhwan atas Palestina, yang diwakili oleh pribadi Prof.Mahmud Anbar.
- Bicara tentang mati syahid maka terbagi tiga : syahid dunia akhirot, syahid akhirot dan syahid dunia. Syahid dunia akhirot itu sebagaimana kisah Ja’far bin Abi Tholib yang mati syahid di medan perang. Diantara para shohabat RosululLoh, Ja’far dikenal paling mirip perawakannya dengan RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam. Beliau termasuk shohabat yang hijroh dua kali, hijroh pertama ke Habasyah (Ethiopia) dan hijroh kedua ke Madinah.
- Setelah hijroh ke Habasyah, Ja’far mendapatkan tantangan dari utusan kafir Quroisy, yang menyatakan bahwa muslimin yang hijroh ke Habasyah adalah pelarian, dan sepantasnya diusir kembali ke Makkah. Saat dipanggil Raja Habasyah yg bernama Najasyi dan diminta keterangan atas tuduhan tersebut, Ja’far membacakan QS. Maryam di hadapan Raja, yang saat itu didampingi para pendeta Nasrani. Sang Raja menangis mendengar ayat yang dibacakan, demikian pula para pendeta Nasrani sehingga Ja’far dan muslimin yang bersamanya diberi jaminan keamanan oleh Raja, sedangkan utusan kafir Quroisy diperintahkan pergi dan tidak mengganggu muslimin lagi.
- Ketika datang berita bahwa muslimin di Makkah hijroh ke Madinah, maka Ja’far kembali dari Habasyah dan ikut hijroh ke Madinah. Pada saat bersamaan dengan datangnya Ja’far ke kota Madinah, muslimin berhasil menaklukkan benteng Yahudi “Khoybar”, sehingga RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam didorong rasa gembira menyatakan bahwa beliau tidak tahu apa yang membahagiakan dirinya, apakah penaklukan Khoybar ataukah kedatangan Ja’far.
- Pada saat pemberangkatan pasukan Perang Mu’tah (daerah di dekat Palestina) ternyata RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam memilih Ja’far sebagai salah satu panglimanya. Demikianlah sikap seorang pemimpin, harus tegas saat memutuskan hal yang penting, walaupun beliau amat sayang kepada Ja’far dan keluarganya.
- Untuk perang Mu’tah, beliau menunjuk tiga panglima sekaligus, yang hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, seakan memberikan isyarat bahwa perang tersebut sangat berat dan panglimanya akan gugur syahid. Panglima yg ditunjuk adalah : 1). Zayd bin Haritsah, 2). Ja’far bin Abi Tholib, 3).AbdulLoh bin Rowahah, ketiganya berurutan syahid sehingga pasukan muslimin akhirnya dipimpin oleh Kholid bin Walid, rodhiyalLohu ‘anhum.
- Atas syahidnya Ja’far maka RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam mendatangi keluarganya. Saat beliau datang, anak-anak Ja’far dengan gembira menyambutnya, mereka semua masih kecil-kecil. RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam menghibur mereka dan mengatakan kepada para shohabat, “Masakkan makanan untuk keluarga Ja’far, sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang amat menyibukkan (kesedihan).” (HR.Tirmidzi no.998).
- Dan itulah yang kita lakukan hari ini, berta’ziyah dan memasakkan makanan untuk keluarga yang ditinggalkan selama tiga hari, bukan seperti pertanyaan orang di sana, “Orang Muhajirun itu koq ajarannya aneh-aneh !” Bukan aneh para hadirin sekalian, tapi kita mengerjakan apa yang diperintahkan oleh RosululLoh. Jadi kalau para tamu yang diundang malam ini mau makan, boleh saja, asalkan masakan dari tetangga, bukan masakan keluarga yang sedang berduka.
- Adapun syahid kedua adalah syahid akhirot, yang bisa terjadi karena enam hal (selain terbunuh dalam perang di jalan AlLoh) :
1). Mati di jalan (meninggikan agama) AlLoh,
2). Mati karena wabah (tho’un) penyakit,
3). Mati karena sakit (dalam) perut,
4). Mati karena tenggelam,
5). Mati tertimpa reruntuhan,
6). Mati karena melahirkan.
Nah mas Nur Ikhwan ini termasuk dalam syahid akhirot karena wafat dalam perjalanan untuk membela saudaranya di Palestina, dan beliau ternyata dalam keadaan puasa pada saat kecelakaan terjadi. - Lalu syahid ketiga adalah syahid dunia, sebagaimana kisah seorang shohabat yang terlihat oleh semua orang saat itu, berperang dengan gigihnya, ternyata pada saat terluka dan tidak tahan lagi dengan luka-luka yang dideritanya, maka ia pun bunuh diri (HR.Bukhori 5892). Ia hanya mendapatkan gelar syahid di dunia, tetapi tidak mendapatkan ganjaran di akhirot.
- Orang yang syahid itu akan diberi enam kelebihan di akhirot :
1). Diampuni dosanya sejak pertama kali darahnya mengalir,
2). Diperlihatkan kedudukannya di Surga,
3). Diselamatkan dari siksa kubur,
4). Dibebaskan dari ketakutan yang besar (di padang Mahsyar) dan dihiasi dengan perhiasan Iman (dalam riwayat lain : mahkota mutiara),
5). Dinikahkan dengan 70 bidadari,
6). Diberikan hak syafa’at bagi 70 anggota keluarganya (HR.Ibnu Majah 2789). - Sedemikian tinggi penghargaan AlLoh Ta’ala atas orang yang syahid, maka sudah sepantasnya kita semua menginginkan mati syahid.
Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yg ada