
BismilLah.
Catatan nasihat Imaamul Muslimin : Ust. Yakhsyallah Mansur pada penyambutan rombongan “Konvoi dan Pengibaran Bendera Indonesia Palestina di Selat Sunda” hari Sabtu siang, 14 Jumadal Ula 1446H / 16 Nopember 2024M di area parkir Dermaga II, Pelabuhan Merak – Banten sbb:
- Ba’da salam, tahmid dan sholawat, Imaamul Muslimin bertanya, “Apakah para ikhwan (saudara) dan akhwat (saudari) siang ini berkumpul untuk membela Masjid Al-Aqsho dan Palestina? Apakah para ikhwan dan akhwat merasakan lelah dan payah? Apakah para ikhwan dan akhwat masih semangat mengikuti acara selanjutnya?”
- Bila para ikhwan dan akhwat yang melaksanakan konvoi sejak (berangkat) dari Muhajirun (Natar) sampai di (pelabuhan) Bakauheni, lalu menyeberangi Selat Sunda untuk mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina, kemudian saat ini berlabuh di (pelabuhan) Merak dan merasakan capek, penat, lelah, payah, maka itulah yang disebut jihad. Kalau tidak mau bersusah-payah, namanya bukan jihad.
- Sebagai nasihat, kami sampaikan kisah tentang seorang shohabat yang bernama Tsauban (dalam riwayat lain hanya disebutkan seorang lelaki tanpa nama) datang kepada RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam mengungkapkan kesedihan. Rasa sedih itu timbul karena keinginan kuat shohabat tersebut untuk selalu bersama kekasihnya, yakni Nabi Muhammad.
- (Berdasar hadits ‘Aisyah dalam Tafsir Ibnu Katsir), ia berkata, “Wahai RosululLoh, sesungguhnya engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku sendiri, dan lebih aku cintai daripada keluargaku, serta lebih aku cintai daripada anakku. Sesungguhnya bila aku berada di dalam rumah, lalu aku teringat kepadamu, maka aku tidak sabar lagi sebelum bertemu denganmu dan melihatmu. Tetapi bila aku ingat akan matiku dan matimu, maka aku mengetahui jika engkau dimasukkan ke dalam surga, pasti diangkat kedudukanmu bersama para Nabi. Jika pun aku (nantinya) masuk surga, aku merasa khawatir bila tidak dapat melihatmu lagi.”
- Dari kisah tersebut, turunlah malaykat Jibril membawa QS. An-Nisa ayat 69, yang artinya : “Dan barangsiapa yang mentaati AlLoh dan Rosul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh AlLoh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin (jujur), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” Dan ayat inilah yang dimaksud dalam setiap roka’at sholat, di saat kita semua membaca QS. Al-Fatihah pada ayat “Shirotholladzina an’amta ‘alayhim… (jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka…)” Maka perjalanan kita dalam kegiatan ini ditujukan sebagai bentuk keinginan kuat kita untuk bersama-sama menyertai orang-orang yang telah diberi nikmat, baik dari kalangan Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih.
- (Dalam riwayat lain) ada shohabat yang rumahnya jauh dari masjid, tapi ia tidak pernah ketinggalan sholat berjama’ah. Biasanya, kalau kita kan lebih suka rumahnya dekat dengan masjid, tapi berbeda dengan shohabat ini. Ia ingin selalu dicatat langkah kakinya ketika berangkat ke masjid dan pulang dari masjid. RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam lalu bersabda, “Sungguh AlLoh telah mengumpulkan untukmu hal itu seluruhnya.” (HR. Muslim 663) Perjalanan kita hari ini memang belum sampai ke Masjid Al-Aqsho, tetapi semoga langkah-langkah kaki kita semua dicatat oleh AlLoh Ta’ala sebagai rasa cinta atas Masjid Al-Aqsho dan jihad pembelaan atasnya.
- Ingat, ketika kita melangkahkan kaki dalam perjalanan ini, akan ada debu-debu yang menempel, akan ada jejak-jejak kaki kita di atas jalan yang dilalui, Bumi akan menjadi saksi bahwa kita pernah berada diatasnya dalam rangka membela Masjid Al-Aqsho. RosululLoh shollalLohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Kedua kaki seorang hamba yang berdebu di jalan AlLoh tidak akan disentuh oleh api neraka.” (HR. Bukhoriy 2600). Semoga debu-debu perjalanan kita hari ini dicatat oleh AlLoh Ta’ala sebagai pembebas dari api Neraka, aamiin.
- Jadi simpulan nasihat hari ini adalah : 1). Kegiatan ini untuk menguatkan keinginan kita menyertai Nabi Muhammad shollalLohu ‘alayhi wa sallam, shiddiqin : seperti Abu Bakar rodhiyalLohu ‘anhu, syuhada : seperti Hamzah bin ‘Abdul Muththolib rodhiyalLohu ‘anhu, dan sholihin (dari kalangan salafush sholih). 2). Langkah-langkah kaki kita dicatat pahalanya, baik saat berangkat maupun saat pulang. 3). Jejak kaki dan debu yang menempel menjadi pembebas dari api Neraka. Jihad terpenting yang bisa dilakukan ummat Islam saat ini adalah : pembebasan Masjid Al-Aqsho.
Demikian catatan kami, semoga bermanfa’at dan mohon ma’af atas segala kekurangan yang ada